Muncrat di Dalem Kantor
Muncrat di Dalem Kantor | Kantor yang Tak Pernah Sepi
Aku kerja di perusahaan logistik menengah di kawasan industri Cakung. Gaji pas-pasan, kerjaan rutin, tapi suasana kantornya… jauh dari biasa.
Di antara puluhan karyawan, entah kenapa aku selalu jadi perhatian khusus buat beberapa mbak-mbak. Bukan karena aku ganteng banget atau punya badan atletis—aku cuma cowok biasa, tinggi 170-an, badan standar, tapi katanya sih “ramah, perhatian, dan enggak judgemental”. Mungkin itu kuncinya. Aku enggak pernah nge-judge status mereka, enggak pernah nanya “kok gitu sih sama suami?”, enggak pernah bikin mereka merasa bersalah di depanku. Jadi mereka merasa aman buat “lepas”.
Yang paling sering dan paling liar adalah Mbak Nisa.
Mbak Nisa umur 32, sudah punya anak dua, suaminya supir truk antar kota yang jarang pulang. Badannya masih kencang, payudara besar (mungkin cup D), pinggul lebar, kulit sawo matang yang licin banget kalo keringetan. Dia kerja di bagian admin gudang, sering keliling bawa map dan selalu pakai kemeja ketat yang kancing atasnya suka “lupa” dikancing.
Pertama kali terjadi di ruang OB kecil di belakang gudang, jam 3 sore waktu kantor lagi sepi banget. Aku lagi nyeduh kopi buat atasan, dia masuk, langsung kunci pintu dari dalam tanpa bicara apa-apa. Matanya sudah basah, napasnya cepat.
“Mas… cepet. Aku lagi pengen banget,” katanya sambil langsung narik celanaku turun.
Enggak ada basa-basi. Dia jongkok, langsung masukin kontolku ke mulutnya. Mbak Nisa jago main mulut—lidahnya muter di kepala, tangannya mainin bola, sesekali ngeliat ke atas sambil mata berbinar. Aku pegang rambutnya, dorong pelan sampai masuk ke tenggorokan. Dia ngeluarin suara “ngghh… ngghh…” tapi enggak mundur.
Lima menit kemudian dia sudah berdiri, roknya disingkap sampai pinggang, celana dalam diturunin cuma setengah paha. Aku angkat satu kakinya ke atas meja kecil tempat nyimpan sabun colek, langsung masuk dari belakang. Mbak Nisa basah banget, langsung melorot masuk tanpa hambatan.
“Aduh… pelan dulu Mas… gede banget…” padahal dia sendiri yang maju-mundurin pinggulnya.
Aku pegang pinggulnya erat, ngepompa cepat. Suara pantatnya nabrak paha aku berisik di ruangan sempit itu. Dia gigit lengan bajunya sendiri biar enggak teriak. Aku bisik di telinganya:
“Mau di dalem lagi ya Mbak?”
“Iya… muncratin dalem aja… suamiku jarang pulang… aman kok…”
Itu kata-kata favoritku. Aku tambah cepat, sampai akhirnya ngerasa mau keluar. Aku tarik pinggulnya kuat-kuat, dorong dalam-dalam, lalu muncrat berkali-kali di dalam vaginanya yang berdenyut. Mbak Nisa gemetar, kakinya lelet banget sampai aku harus topang badannya.
Setelah itu kami rapikan baju cepat-cepat. Dia cium pipiku, bisik “besok lagi ya Mas… aku kangen”, lalu keluar duluan.
Itu baru awal.
Beberapa bulan kemudian, aku mulai deket sama dua janda berhijab: Mbak Yani dan Mbak Ferli.
Mbak Yani 36 tahun, janda dua tahun, anaknya tinggal sama nenek di kampung. Dia bagian keuangan, selalu pakai hijab lebar warna soft, baju muslimah longgar, tapi kalau dilihat baik-baik, bentuk tubuhnya masih aduhai—payudara penuh, pinggang ramping, bokong bulat yang kelihatan meski ditutup rok panjang.
Mbak Ferli lebih muda, 29 tahun, cerai belum genap setahun. Badannya lebih kecil, tapi proporsional banget. Payudara sedang tapi kencang, pinggul lumayan lebar. Dia paling genit kalau lagi ngobrol berdua—suka colek tangan, suka deketin bahu, suka ngomong “Mas ganteng deh kalau serius gitu”.
Yang bikin aku ketagihan sama mereka berdua adalah fakta bahwa mereka berhijab dan kelihatan “alim” di depan orang lain, tapi di depanku mereka liar luar biasa.
Pertama kali sama Mbak Yani terjadi di mobilku, parkir di basement kantor jam 8 malam setelah lembur. Dia bilang mau nebeng pulang, tapi pas di mobil langsung buka hijabnya, rambut panjangnya tergerai. Bau minyak rambutnya bikin aku langsung tegang.
“Mas… aku udah lama enggak disentuh cowok,” katanya pelan sambil tangannya langsung ke selangkanganku.
Kami pindah ke jok belakang. Aku buka kancing baju muslimahnya satu per satu. Bra-nya hitam polos, payudaranya besar dan putih. Putingnya coklat tua, sudah mengeras. Aku hisap kuat, dia mendesah pelan sambil megang kepalaku.
“Mas… masukin ya… aku mau ngerasain lagi…”
Aku angkat roknya, celana dalamnya sudah basah banget. Aku geser kainnya ke samping, langsung masuk. Mbak Yani sempit, tapi licin. Dia melengkungkan punggung, kakinya melingkar di pinggangku. Aku pompa pelan dulu, lama-lama makin cepat. Dia bisik-bisik:
“Dalem ya Mas… muncrat di dalem… aku lagi aman… aku pengen ngerasain hangatnya…”
Aku enggak tahan. Beberapa menit kemudian aku keluar banyak banget di dalamnya. Dia gemetar hebat, peluk aku erat sambil bilang “Alhamdulillah… akhirnya…”.
Setelah itu Mbak Yani jadi rutin. Kadang di mobil, kadang di ruang arsip lantai 3 yang jarang dipakai, kadang di kosannya kalau anaknya lagi di kampung.
Mbak Ferli beda lagi. Dia lebih suka main di luar kantor.
Pernah kami ke hotel murah di daerah Cakung setelah rapat luar kota. Begitu masuk kamar, dia langsung lepas hijab, lepas baju, tinggal pake bra dan celana dalam hitam renda. Badannya kecil tapi seksi banget.
Dia dorong aku ke kasur, naik ke atas. “Aku mau naik dulu Mas… lama aku pengen gini.”
Dia goyang pinggulnya pelan-pelan, naik turun, sambil megang payudaranya sendiri. Aku cuma bisa pegang pinggulnya, nikmatin pemandangan hijabnya yang sudah lepas, rambut panjangnya bergoyang-goyang.
“Mas… enak enggak? Aku sempit kan?”
“Banget Mbak… enak banget…”
Dia percepat goyangannya, sampai akhirnya dia orgasme duluan—badannya kejang-kejang, vaginanya berdenyut kuat. Aku tahan sebentar, lalu balik posisi. Aku angkat kakinya tinggi-tinggi, masuk dalam-dalam.
“Mau di dalem ya Mbak?”
“Iya… muncratin dalem… aku suka ngerasain keluarnya di dalem…”
Aku dorong keras beberapa kali, lalu keluar banyak di dalam rahimnya. Mbak Ferli cuma bisa mendesah panjang, matanya berkaca-kaca.
Sekarang rutinitas kantorku sudah jadi begini:
- Pagi/siang: Mbak Nisa suka nyamperin di ruang OB atau gudang kecil, cepat-cepat, liar, suka berdiri.
- Sore/malam lembur: Mbak Yani biasanya di mobil atau ruang arsip, lebih lambat, lebih mesra, suka dipeluk lama setelah selesai.
- Weekend atau keluar kota: Mbak Ferli, lebih bebas, lebih lama, suka ganti-ganti posisi, suka main oral dua arah.
Ketiganya tahu aku tidur sama yang lain. Anehnya mereka enggak cemburu. Malah kadang saling sindir ringan kalau ketemu di pantry.
“Mbak Nisa tadi pagi keliatan capek, abis lembur sama siapa ya?” kata Mbak Ferli sambil nyanyi-nyanyi kecil.
“Lebih baik capek gara-gara enak, daripada capek nunggu suami pulang,” balas Mbak Nisa sambil ketawa.
Mbak Yani cuma senyum-senyum sambil ngeliatin aku dari jauh.
Aku? Aku cuma nikmatin. Karena buatku, sensasi terbesar bukan cuma enaknya badan mereka, tapi perasaan “bebas” itu—bebas muncrat di dalam, bebas tanpa kondom, bebas tanpa takut ditanya “kapan nikah?”, bebas tanpa rasa bersalah dari mereka.
Dan yang paling gila… mereka semua suka banget sama kebiasaan itu.
Mereka suka ngerasain hangatnya cairanku di dalam, suka ngerasa “penuh”, suka ngerasa “dimiliki” meski cuma sesaat.
Dan aku? Aku ketagihan sama sensasi itu.
Mungkin suatu hari nanti semuanya akan berakhir. Tapi untuk sekarang… aku masih menikmati setiap detiknya.
Sambil menunggu pesan WA dari salah satu dari mereka yang tiba-tiba muncul di tengah malam:
“Mas… lagi di mana? Aku lagi sendirian nih… pengen banget…”
Aku cuma tersenyum, balas singkat:
“Tunggu 20 menit. Aku otw.”
Dan cerita ini… masih jauh dari selesai.
Sinopsis Cerita Lanjutan :
Rahasia panas di kantor semakin memanas ketika Mbak Nisa tiba-tiba hamil setelah berulang kali muncrat dalem tanpa pengaman—dia malah excited dan minta lebih sering karena yakin suaminya yang jarang pulang takkan curiga, sementara Mbak Yani mulai cemburu diam-diam melihat aku sering hilang bareng Mbak Ferli ke hotel murah. Konflik memuncak saat atasan curiga dengan "lembur" berlebihan dan hampir menemukan rekaman CCTV rusak di ruang arsip; untuk menutup mulut dan menjaga rahasia, ketiga mbak setuju dadakan threesome liar di kosan Mbak Yani—hijab mereka lepas satu per satu, posisi bergantian, dan aku "mengisi" mereka bergiliran tanpa henti, menambah sensasi risiko hamil yang bikin nafsu mereka meledak-ledak, tapi pertanyaan besar muncul: sampai kapan rahasia ini bisa bertahan sebelum salah satu suami tahu atau kehamilan benar-benar terbukti?
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)