Di Balik Jilbab Anggun Mbak Vina
Di Balik Jilbab Anggun Mbak Vina
Namaku Reza, adik bungsu dari Mas Bima. Umurku 27, Mas Bima 34. Kami tinggal serumah besar peninggalan orang tua di pinggiran Jakarta Selatan. Sejak menikah tiga tahun lalu, Mas Bima membawa Mbak Vina ke rumah itu. Mbak Vina, 29 tahun, perempuan yang kalau keluar rumah selalu tampil anggun berjilbab panjang, warna soft, baju tunik longgar tapi tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sopan. Di kantor dia staf marketing sebuah perusahaan farmasi besar, penampilan profesional, ramah, suaranya lembut, senyumnya manis. Siapa yang menyangka di balik jilbab syar’i dan gestur anggun itu tersimpan hasrat yang sama liarnya dengan perempuan biasa?
Awalnya aku cuma adik ipar biasa. Tapi karena Mas Bima sering dinas luar kota—kadang seminggu penuh—dan mobil Mbak Vina sering mogok, aku yang kebagian tugas anter-jemput. Awalnya cuma ngobrol ringan di mobil. Lambat laun jadi lebih dalam. Dia cerita tentang capeknya kerja, tentang Mas Bima yang semakin jarang memperhatikan, tentang keinginannya punya anak yang belum juga terkabul. Aku mendengar. Kadang cuma diam, kadang kasih saran kecil. Tapi mataku sering tak sengaja melirik ke dada yang naik turun di balik tuniknya setiap dia menghela napas panjang, atau ke paha yang sesekali tersingkap sedikit saat dia duduk di kursi penumpang.
Suatu malam, hujan deras. Aku menjemputnya jam 8 malam dari kantor. Dia masuk mobil dengan jilbab sudah agak basah di ujung, wajahnya lelah tapi tetap cantik. Di perjalanan pulang dia tiba-tiba bilang,
“Reza… boleh nggak kita mampir sebentar? Aku capek banget pengen ganti baju, mandi, tapi nggak mau langsung pulang ke rumah.”
Aku tahu maksudnya. Aku juga tahu ini salah. Tapi darahku sudah mendidih sejak tadi dia memegang lenganku pelan sambil bilang “makasih ya tiap hari anterin aku.”
Akhirnya kami mampir ke hotel kecil yang biasa dipakai untuk transit, cuma 10 menit dari rumah. Kamar tipe superior, lampu remang-remang, kasur king size. Begitu pintu tertutup, Mbak Vina langsung memelukku dari belakang. Napasnya panas di leherku.
“Aku nggak tahan lagi, Za…” bisiknya.
Aku berbalik, menatap matanya yang sudah berkaca-kaca. Jilbabnya masih terpasang rapi. Aku pegang dagunya pelan, lalu menciumnya. Pertama pelan, seperti mencicipi. Tapi detik berikutnya lidah kami sudah saling menari ganas. Dia mengerang kecil di mulutku. Tangan kananku langsung merayap ke dada kirinya, meremas lembut dari luar kain. Putingnya sudah mengeras, terasa jelas meski ada bra dan kain tebal.
Kami hampir tak sempat bicara lagi. Aku tarik jilbabnya pelan sampai terlepas, rambut panjang hitamnya terurai. Bau shampoonya manis bercampur keringat hari itu. Aku cium lehernya, turun ke tulang selangka, sambil tanganku membuka kancing tunik satu per satu. Bra hitam renda terlihat, payudaranya penuh, puting cokelat tua menonjol. Aku hisap puting kirinya kuat sambil tangan kiriku meremas yang kanan. Mbak Vina mengerang keras, tangannya mencengkeram rambutku.
“Za… pelan… ahh… jangan kasar dulu…”
Tapi kata-katanya malah membuatku semakin liar. Aku dorong dia ke kasur, buka rok span hitamnya. Celana dalam renda hitam sudah basah di bagian tengah. Aku cium area itu dari luar kain, menghirup aroma kewanitaannya yang pekat. Dia menggeliat, pinggulnya naik-turun mencari gesekan.
Aku tarik celana dalamnya turun. Miss V-nya sudah mengkilap, bulu tipis rapi dipangkas membentuk garis kecil. Aku jilat klitorisnya pelan dulu, lalu semakin cepat. Lidahku menari di antara bibir vaginanya yang tebal. Mbak Vina menjerit kecil, tangannya menekan kepalaku lebih dalam.
“Aduh… Reza… masukin lidahmu… dalam lagi… ahhh!”
Aku masukkan dua jari, melengkung mencari titik G-nya. Dia langsung kejang, cairannya muncrat kecil ke daguku. Orgasm pertama malam itu datang cepat. Tubuhnya bergetar hebat, matanya terpejam rapat.
Tapi aku belum selesai. Aku buka celanaku, kontolku sudah keras banget, urat-uratnya menonjol. Mbak Vina menatapnya dengan mata penuh nafsu.
“Gede juga punya adik ipar…” katanya sambil tersenyum nakal.
Dia merangkak mendekat, lalu langsung mengulum kepalaku. Lidahnya berputar di sekitar kepala kontol, tangannya mengocok batangnya pelan. Aku mengerang, hampir keluar. Tapi aku tarik dia naik, membalikkan posisi. Aku letakkan kontolku di mulut vaginanya yang masih basah, lalu dorong perlahan.
“Pelan Za… gede… ahhh… pelan dulu…”
Aku masuk setengah, lalu tarik lagi, lalu dorong lebih dalam. Sampai akhirnya seluruh batangku masuk penuh. Vaginanya sempit, panas, dan berdenyut kuat. Kami berdua mengerang bersamaan. Aku mulai menggerakkan pinggul, pelan dulu, lalu semakin cepat. Mbak Vina memeluk leherku erat, kakinya melingkar di pinggangku.
“Gitu… Za… lebih keras… tusuk dalam lagi… ahhh… aku mau keluar lagi…”
Aku percepat ritme, kasur berderit keras. Payudaranya bergoyang-goyang setiap dorongan. Aku hisap putingnya lagi sambil terus menggempur. Dia mencakar punggungku, meninggalkan bekas merah.
“Za… aku mau keluar… keluar bareng ya… ahhh… keluar di dalem… isi aku…”
Kata-kata itu membuatku tak bisa menahan lagi. Aku dorong beberapa kali sangat dalam, lalu melepaskan semuanya di dalam rahimnya. Cairanku banyak, terasa memenuhi vaginanya. Mbak Vina juga orgasme bersamaan, tubuhnya mengejang keras, vaginanya berkedut-kedut mencengkeram kontolku.
Kami diam beberapa menit, hanya napas tersengal. Kontolku masih di dalam, pelan-pelan melemas. Cairan putih kami bercampur mengalir keluar dari vaginanya ke sprei.
Malam itu kami mandi bersama, bercinta lagi di kamar mandi—kali ini aku ambil dari belakang sambil dia bertopang di dinding kaca. Air hangat membasahi tubuh kami, suara cipratan bercampur erangan.
Setelah itu, kebiasaan buruk kami terus berlanjut.
Di rumah, saat Mas Bima dinas, kami curi-curi waktu. Pagi sebelum berangkat kerja, Mbak Vina sering “minta tolong” ke kamarku untuk “minta pendapat baju”. Begitu pintu tertutup, dia langsung jongkok, membuka resletingku, dan mengulum kontolku sampai aku keluar di mulutnya. Aku suka melihat jilbabnya masih rapi sementara mulutnya penuh cairanku.
Siang hari, kalau dia WFH, aku sering “mampir” ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi, aku jongkok di bawah meja, menjilati vaginanya pelan-pelan sambil dia tetap mengetik laporan. Kadang dia pura-pura video call sama atasan, wajahnya berusaha tenang sementara lidahku bermain di klitorisnya.
Malam hari paling berisiko. Saat Mas Bima tidur di kamar sebelah, Mbak Vina kadang menyelinap ke kamarku. Dia cuma pakai daster tipis tanpa bra, jilbab dilepas. Kami bercinta pelan-pelan di kasurku, tangannya menutup mulutnya sendiri supaya tak bersuara terlalu keras. Posisi favoritnya doggy style—dia menongkrong di kasur, bokongnya terangkat tinggi, aku menggenjot dari belakang sambil meremas pinggulnya. Kadang aku tarik rambutnya pelan, membuat lehernya tertekuk, lalu cium dan gigit kecil.
Kami tahu ini salah. Kami tahu ini dosa besar. Tapi hasrat itu seperti candu. Setiap kali selesai bercinta, kami saling peluk erat, berbisik “maaf” berulang-ulang, tapi besoknya kami melakukannya lagi.
Hingga suatu malam, saat kami sedang asyik di kamar tamu lantai bawah, tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka. Mas Bima pulang lebih cepat dari dinasnya.
Kami panik. Mbak Vina buru-buru merapikan jilbab dan baju, aku keluar lewat pintu belakang sambil pura-pura baru pulang dari minimarket.
Tapi sejak malam itu, kami jadi lebih hati-hati. Tapi tidak berhenti.
Karena rasa bersalah dan kenikmatan terlarang itu justru membuat kami semakin ketagihan.
Dan cerita ini… masih berlanjut.
Sinopsis singkat Bagian 2
Setelah hampir ketahuan Mas Bima, Reza dan Mbak Vina semakin hati-hati tapi malah makin liar—curi waktu di dapur pagi hari, garasi siang bolong, bahkan kamar mandi malam saat suami tidur. Saat Mas Bima dinas 3 hari, mereka berani ke kamar utama: bercinta ganas di ranjang suaminya sendiri, pakai mainan rahasia, kata-kata kotor, dan orgasme berulang, tapi Reza menemukan foto lama pasangan itu yang bikin hatinya goyah—apakah ini cuma nafsu sesaat atau sudah jadi candu yang tak bisa berhenti?

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)